Minggu, 14 Februari 2010

14 Februari 2010

Satu tahun sudah aku menjalani hidupku sebagai Asisten Pribadi Prof. Sajogyo. Pada tanggal ini beliau memintaku untuk menjadi asistennya untuk mendampingi beliau semasa hidupnya di akhir-akhir masa tuanya. Banyak pelajaran dan tantangan bersama beliau, pelajaran hidup adalah proses yang sangat aku rasakan bersamanya. Hidup penuh dengan ketabahan, kesabaran, dan ujian yang harus selalu dihadapi dengan tulus dan ikhlas, itulah yang aku rasakan hidup bersamanya.

Berprilaku arif dan bijaksana dalam setiap gerak kehidupan merupakan realitas kehidupan yang beliau jalani. Tidak ada kata yang beliau ucapkan kecuali kata yang bermakna sebagai pesan-pesan kehidupan kepada generasi penerusnya. Hidup dengan ketegasan dan keteguhan diri, berdasarkan akal pikiran dan hati, yang membuat kehidupan itu beliau selalu syukuri dalam keadaan suka dan duka.

Orang tua yang dalam keadaan lemah tak berdaya melawan realitas kehidupan yang dijalani, membuat diriku merasa kagum akan ketabahannya. Melalui latihan-latihan kejiwaan yang dilakukan sejak lima dekade yang lalu, sampai hari ini pun, beliau terus menjalaninya. Sebab dengan berserah diri kepada Sang Pemilik kehidupan, serasa hidup ini hanya beliau darma baktikan kepadaNya, Tuhan Sang Maha Pencipta langit dan bumi beserta isinya.

Hidup yang tidak selalu berlebihan, cukup sandang, pangan, dan papan. Makan dengan lauk-pauk seadanya, dilakukan dengan pelan-pelan, mengunyah sampai 30 kali setiap suapan sendok makan, minum setelah makan dihabiskan, merupakan ciri beliau dalam menyantap makanan. Berkeliling di halaman rumah di pagi hari sambil menjemur tubuh, sebagai bentuk mensyukuri nikmat sinar matahari yang menerangi bumi beserta isinya yang diperoleh secara gratis. Tak lupa sambil melihat jam tangan, pukul 06.15 – 07.05 WIB menyempatkan lihat bus IPB yang melintas di depan rumahnya, sebagai rasa bangga terhadap almamaternya yang dulu sempat mengabdi sekitar lima dekade.

Sifat yang harus diikuti oleh generasi penerus adalah ketekunan beliau dalam segala hal. Ide dan gagasan yang selalu muncul dari beliau merupakan hasil dari pengolahan jiwa dan jasad yang menyatu membentuk sebuah pemikiran diluar batas orang biasa. Tak jarang, ide yang disampaikan tak masuk di akal, kuno, bahkan belum bisa diterima oleh orang biasa. Namum ide itu membuktikan kebenarannya melintasi ruang dan waktu. Bahwa apa yang beliau sampaikan tidak dapat dipahami sepintas waktu, tetapi jauh ke depan melintasi waktu.

Bagaimanapun keadaannya, orang tua ini harus selalu kita jaga, baik keadaan fisik, jiwa, dan idealismenya. Presiden RI ke-6 dalam acara Penganugerahan Tanda Kehormatan Bintang Maha Putera di Istana Negara Jakarta tanggal 14 Agustus 2009 berpesan kepada saya : “Mas, tolong di jaga Bapak ya.” Jawab saya saya : “Baik Pak.”

Kepada generasi penerus pun juga harus menjaganya, bukan hanya fisiknya tetapai juga jiwa dan idealismenya. Tugas yang harus dipikul sekarang adalah memikirkan regenerasi, baik dari sisi “keilmuan maupun laku-nya” dalam menemukan wujud baru aliran pemikiran “sajogyo” yang berpihak pada petani miskin dan kelompok marjinal. Jangan hanya memanfaatkan kesempatan untuk memenuhi “kepentingan” tetapi juga harus bisa membawa jiwa dan cita-cita belai dalam upaya : “Membangun…. Membangun…. Membangun…” masyarakat Indonesia yang berkeadilan sosial. “Itu inti pesan beliau kepada generasi penerus.”

Minggu, 08 Maret 2009

TERIMA KASIH SAHABAT

Aku Mengucapkan banyak terima kasih kepada sahabat-sahabatku yang berkenan untuk menjenguk Prof. Sajogyo di Jalan Martimbang II No. 3 Jakarta. Aku sangat bergembira sekali dengan kemajuan kesehatan bapak yang semakin hari, semakin membaik. Bermula dari sakit asam urat dan gangguan pencernaan yang begitu parah hingga harus di rawat di RSHS Jakarta selama 23 hari (28 Januari – 19 Februari 2009). Semua ini berkat kegigihan bapak untuk mau sembuh dari sakitnya, serta dorongan dari semua keluarga, rekan, sahabat, anak, dan cucunya yang selalu sedia mendo’akan bapak selama beliau sakit. Apalagi dengan keluarga, yaitu keluarga Bapak Koenoro, adik kandung bapak yang bersedia menjadikan rumahnya sebagai tempat perawatan bapak pasca dari RSHS Jakarta dari tanggal 19 Februari – sekarang (17 Hari).

Kesanku terhadap bapak bersama sahabatku ketika menjenguk tanggal 08 Maret 2009 pukul 13.00 WIB adalah bapak bisa berjalan dan menemui kami di ruang tamu rumah pak koenoro. Aku tidak tahu makna dibalik ini, sebelumnya bapak belum pernah menemui tamu-tamu yang menjenguknya itu di ruang tamu, biasanya hanya didalam ruang tidurnya. Apakah dengan datangnya kami semua bapak memiliki makna tersendiri? Akupun tidak tahu jawabannya. Bapak selalu berbuat diluar dugaan, dan mungkin sulit diduga, diartikan, dimaknai, dan dimengerti. Mungkin hanya bisa dimengerti beberapa saat kemudian, detik, menit, jam, hari, bulan atau bahkan tahun. Begitulah bapak yang pemikirannya sangat sajuh kedepan diluar batas kemampuanku dan juga sahabat-sahabatku.


Bapak dalam pesannya memberikan masukan kepada kita untuk bisa membaca hasil laporan “Peluang Kerja di Sektor non Pertanian” yang ada di perpustakaan di Malabar 22. Sebab buku itu penting untuk dikaji ulang oleh generasi muda, terutaman para mahasiswa yang ingin menulis tugas akhir. Buku itu juga pernah dikutip oleh Prof. Mangara Tambunan dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar kemudian dicetak dalam sebuah buku. Kemudian bapak juga menyarankan buku Capital Sosial tulisan Robert Lawang dosen Sosiologi Pedesaan Universitas Indonesia. Mengapa buku itu penting, sebab di dalam buku itu dituliskan bagaimana pengembangan modal sosial menjadi salah satu modal ikatan yang kuat antar masyarakat terutama di pedesaan di Indonesia. Begitu juga dengan bukunya Berta Winata banyak memberikan gambaran mengenai tokoh politik di Indonesia dalam mengkaji sosiologi politik dalam praktek.


Kami semua menyadari bahwa Prof. Sajogyo memiliki cita-cita yang besar terhadap bangsa ini. Beliau melakukannya penuh dengan keikhlasan, ketulusan, dan jiwa intelektualitas yang tinggi. Kami semua sebagai cucunya mencoba untuk sejalan dengan pemikiran beliau yaitu konsen terhadap penelitian dan pendampingan terhadap masyarakat terutama masyarakat pedesaan di Indonesia. Entah bagaimana nanti hasilnya, yang terpenting bagi kami semua mejalankan apa yang menjadi tujuan kita bersama. Karena kami yakin bahwa usaha sekecil apapun pasti akan ada hasilnya. Terima kasih sahabat yang masih peduli dengan Prof. Sajogyo, hanya dengan tekad dan kemauan kitalah cita-cita bangsa ini akan tercapai, yaitu ; mewujudkan keadilasn sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.


Terima kasih...

Rabu, 04 Maret 2009

14 FEBRUARI 2009

14 FEBRUARI 2009

Pada tanggal ini bertepatan pada hari Sabtu Pon atau 18 shafar 1430 H. Dimana pada hari ini merupakan hari yang bersejarah bagiku, mungkin aku orang yang sangat mencintai sejarah, sampai kejadian pada hari ini aku tuliskan dalam catatan harianku. Pada tanggal 14 Februari mungkin kebanyakan orang terutama pasangan muda-mudi yang saling memadu kasih, menjadikan hari ini sebagai hari kasih sayang atau yang biasa disebut Valentine’s Day. Biasanya sepasang kekasih tersebut saling menguatkan kasih sayang dan cintanya, berjalan mencari suasana baru dengan pemandangan yang indah, merayakannya dengan penuh senang dan gembira, atau memberikan sebuah cokelat untuk sang kekasih yang dicintainya.

Tanggal 14 Februari ini bagiku sendiri sangat berbeda maknanya. Pada hari itu, pukul 20.14 WIB aku menerima telepon dari Hand Phone yang berdering sekitar 5 kali di rumahku. Telepon itu bukan dari kekasihku, bukan dari orang tuaku, bukan dari sahabatku, atau bukan dari teman kerjaku. Tetapi dari orang tua yang sedang sakit dan dirawat di Rumah Sakit Harapan Kita (RSHS) Jakarta yang sedang menderita sakit gangguan pencernaan dan asam urat tinggi dan terbaring di RSHS. Siapakan orang tua itu???

Orang tua adalah Profesor Sajogyo. Seorang guru besar IPB yang berumur 83 Tahun (21 Mei 1926) yang memiliki jiwa kharismatik, sederhana, santun, berwibawa, dan memiliki intelektualitas terhadap kondisi sosial masyarakat miskin di Indonesia. Kiprah beliau sangat dikenal oleh berbagai kalangan, baik akademisi, politisi, aktivis, maupun masyarakat yang golongan menengah ke bawah, karena aktualisasi beliau terjun ke lapangan terutama di pedesaan pasca pensiun menjadi dosen di IPB tahun 1991.

Apa yang beliau sampaikan kepada lewat telepon???

Beliau bertanya kepadaku,,, Apakah anda bersedia menjadi asisten pribadi saya? Yang bertugas untuk mendampingi saya setelah dari rumah sakit?

Pertanyaannya cukup singkat dan padat. Tetapi bermakna dalam dan penuh dengan ketulusan.

Aku menjawab,,, dengan penuh keikhlasan hati dan niatan yang tulus untuk mendampingi beliau,,, aku jawab ; iya bapak, insya Allah saya bersedia untuk menjadi asisten pribadi bapak.

Beliau menjawab,,, iya terima kasih... wassalamu’alikum.

Jawabku,,, Wa’laikum salam.

Setelah beliau menutup teleponnya, akupun terdiam, merenung, dan berfikir dalam hati. Sebenarnya, mengapa bapak memilih saya??? Apa kelebihan saya dibandingkan dengan sahabat-sahabatku yang lain??? Apa yang bapak nilai dari dalam diri saya, sikap saya, kepribadian saya, atau perilaku saya???

Aku mengenal Prof. Sajogyo tahun 2005. Saat itu merupakan acara peresmian didirikannya Yayasan Sajogyo Inti Utama (SAINS). Sebuah lembaga yang beridiri atas inisiatif dari murid-murid beliau dalam rangka untuk mengaktualisasikan jiwa intelektualitas beliau yang berpihak kepada masyarakat miskin pedesaan di Indonesia. Aku terlibat aktif di Yayasan itu sampai sekarang, dan aku mengikuti proses belajar di pedesaan Kabupaten Poso selama 2 Tahun (awal 2007 - akhir 2008) dan baru ketemu beliau dengan dekat di awal tahun 2009.

Di awal tahun 2009 beliau menderita sakit dan harus dirawat di RSHS Jakarta. Dalam masa-masa beliau dirawat di RSHS, aku baru menemani dan menjaga beliau hanya 3 kali. Berbeda dengan teman-temanku yang harus menemani beliau sampai berhari-hari dan jarang pulang ke Bogor. Akupun merasa bahwa diriku sebelumnya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan teman-temanku yang sangat perhatian sama beliau, bahkan dekat dengan beliau. Aku merasa diriku bukanlah orang yang memiliki kedekatan emosional yang dekat dalam kehidupan sehari-hari beliau. Bahkan aku juga bukan orang yang mungkin belum mendapatkan kepercayaan yang penuh dari beliau.

Tetapi.....

Tanggal 14 Februari 2009 aku sangat bersedih, sebab permohonan beliau untuk memintaku sebagai asisten pribadinya membuatku selalu termenung dengan alasan-alasan beliau memilihku...

Tapi aku harus tegar, aku tidak boleh terus bersedih, aku harus membuktikan bahwa amanah yang beliau minta kepadaku harus kujalani dengan baik, sabar, dan ikhlas. Aku sadari bahwa ini sangat berat, penuh dengan tantangan, dan energi yang besar. Bagiku, kalau ini dijalani dengan penuh ketulusan pasti akan bisa berjalan dengan baik. Itu prinsipku...

Terima kasih bapak, atas kepercayaan yang diberikan kepada saya. Semoga saya bisa menjalaninya dengan sabar, ikhlas, dan amanah. Amin...