Minggu, 11 Juli 2010

JEJAK PANGAN BERAS DI MAMASA



Buku yang merupakan hasil penelitian ini diterbitkan dengan tujuan untuk mendesiminasi satu dari sekian banyak ilmu pengetahuan yang belum terkuak di Mamasa. Selain itu, buku ini ingin menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki wilayah yang para petaninya masih mempertahankan cara produksi tradisional dalam bertani. Pilihan atas cara produksi ini, bukanlah berangkat atas “fanatisme adat”. Melainkan, petani belajar atas realitas alam mereka.

Buku ini tidak akan terbit tanpa adanya fasilitas atau dukungan pendanaan dari Veco Indonesia yang telah memberikan kepercayaan kepada kami. Juga Yayasan Duta Pelayanan Masyarakat (YDPM) yang telah banyak membantu kami selama pelaksanaan penelitian di lapangan.

Untuk itu, atas terlaksananya penelitian dan terbitnya buku ini, kami ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Veco Indonesia atas kepercayaan yang diberikan tersebut. Tak lupa ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Kepala Desa Mambulilling dan Bambangbuda serta para informan yang telah memberikan informasi kepada kami dengan penuh kekeluargaan dan kehangatan selama berlangsungnya penelitian lapangan. Tanpa mereka, rasanya penelitian ini tidak akan memperoleh hasil sebagaimana yang diharapkan. Begitupun kepada kawan-kawan YDPM yang tak dapat kami sebutkan satu per satu, kami ucapkan terima kasih atas waktu dan kerjasamanya sewaktu penelitian lapang ini berlangsung. Khusus kami sampaikan kepada guru sekaligus orang tua kami Bapak Dr. Ir. Sajogyo atas saran dan masukan yang berharga dalam memperkaya penelitian ini. Juga kepada Bapak Dr. Ir. Bayu Krisnamurthi, MS (Wakil Menteri Pertanian RI) yang berkenan memberikan kata pengantar dalam buku ini. Serta kepada teman-teman di Bogor, kami sampaikan ucapan terima kasih atas persahabatannya.

Akhirnya, apa yang dihasilkan dari penelitian ini kiranya dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran bersama untuk “memuliakan petani” di Ibu Pertiwi ini.

Bogor, Juni 2010

Tim Penyusun,




Sofyan Sjaf, M. Syafar Supardjan, Arman

Selasa, 23 Maret 2010

Paradigma Pendidikan Nasional

Peradaban manusia sepanjang sejarah dunia ditentukan oleh perkembangan ilmu pengetahuan. Wibisono (1983) dalam bukunya menyatakan pada abad ke- 19 merupakan abad yang sangat berpengaruh terhadap kemajuan ilmu pengetahuan modern di dunia Barat, diantaranya : lahirnya filsafat positivisme.[1] Ilmu pengetahuan sebagai ilmu yang mempelajari keterkaitan yang berlaku di dalam dunia realitas menuju kepada kebenaran dalam menjawab realitas itu sendiri, sehingga ilmu pengetahuan di dunia ini selalu “berkembang” sesuai dengan konteksnya ke arah yang lebih maju.

Kemajuan ilmu pengetahuan itu sendiri telah melahirkan paradigma dalam mengungkap hakikat ilmu yang sebenarnya. Dalam Salim (2001), paradigma diartikan sebagai seperangkat kepercayaan atau keyakinan dasar yang menuntun seseorang dalam bertindak dalam kehidupan sehari-hari.[2] Paradigma ilmu pengetahuan tersebut membentuk model atau kerangaka berfikir para Ilmuan menurut bidang dan langkah-langkah ilmiah masing-masing di dalam menjawab realitas itu sendiri. Tradisi Descartes (1596-1650) dan para penerusnya yang mengembangkan cara pandang positivisme menjadi sejumlah aliran paradigma baru sebagai landasan ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang kehidupan.

Manusia hidup di dunia yang selalu mengalami perubahan dalam semua aspek kehidupan. Suwarsono dan Alfin (1994) menyatakan teori modernisasi yang lahir pada tahun 1950-an merupakan paradigma utama.[3] Teori ini muncul pasca perang dunia II yang ditandai kemunculan Amerika Serikat sebagai Negara Adidaya dalam mempengaruhi Negara-negara berkembang yang baru merdeka (dunia ketiga) di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Namun teori ini mendapat kritik dengan munculnya teori ketergantungan dan keterbelakangan akhir 1960-an. Pada pertengahan tahun 1970-an muncul pula ke permukaan paradigma baru yang menguji isu-isu pembangungan, yaitu : teori sistem ekonomi-dunia (the world system). Ilmu pengetahuan bukan sesuatu yang statis, melainkan berjalan dinamis yang akan memberikan terwujudnya transformasi baru. Inilah yang menjadi tugas dunia pendidikan, mengamati semua aspek-aspek realitas kehidupan manusia dengan menemukan dan menjawab masalah-masalah sosial secara ilmiah.

Mangunpranoto (1978) mendefiniskan pendidikan ialah suatu usaha untuk mengantar manusia menemukan pribadinya sebagai orang dewasa yang dapat berdiri sendiri dan penuh tanggung jawab, sehingga dengan begitu ia dapat dengan bebas mengembangkan cipta, rasa, dan karsanya supaya bisa berbakti kepada nusa dan bangsa dan seluruh umat manusia.[4] Peran pendidikan dipahami bukan saja pada konteks mikro, melainkan juga pada konteks makro, yaitu kepentingan masyarakat negara, bangsa dan kemanusian.[5]

Paradigma pendidikan nasional dalam penataan dan pengembangan sistem pendidikan nasional mampu mengakomodasikan berbagai pandangan secara efektif sehingga terdapat keterpaduan dalam konsep. Brubacher dalam bukunya, Modern Philosophies Education (1978), memulai pembahasannya tentang hubungan pendidikan dengan perubahan sosial, tatanan ekonomi, politik, dan budaya Negara (Jalal, 2001). Sebab pendidikan terjadi di masyarakat, dengan sumberdaya masyarakat, dan untuk masyarakat, maka pendidikan dituntut untuk mampu memperhitungkan dan melakukan antisipasi terhadap perkembangan sosial, ekonomi, politik, dan budaya bangsa secara simultan.

Emile Durkhiem (1858-1917) sebagai seorang sosiolog optimis memandang pendidikan sebagai hak semua orang dan juga sebagai sarana kaum miskin untuk meningkat menjadi pemimpin-pemimpin masyarakat (Robinson, 1986).[6] Selanjutnya dalam Jong (1984) Durkheim mengira bahwa pendidikan dapat menjadi sarana untuk menanggulangi disintegrasi sosial yang ditimbulkan oleh pembagian kerja, dimana pendidikan untuk melayani kebutuhan masyarakat industri dalam keadaan perpecahan moril dan kekacauan sosial.[7] Menurutnya, kurikulum pendidikan di jaman Renaissance mengagungkan suatu kebudayaan elit yang ekslusif dan menutup bagi mayoritas penduduk. Di Indonesia, sistem pendidikan yang dilaksanakan oleh kaum penjajah memiliki tujuan tertentu, karena pendidikan ditujukan untuk kepentingan penjajahan, sehingga cara seperti itu mendapatkan pertentangan dari beberapa perguruan Nasional seperti Muhammadiyah, Taman Mahasiswa dan lain-lain, yang menggunakan pendidikan sebagai sistem perjuangan kebudayaan dan pengembangan masyarakat untuk mencapai cita-cita kemerdekaan bangsa (Mangunpranoto, 1978).

Durkheim dalam Jong (1984) menjelaskan bahwa masyarakat hanya dapat hidup langgeng apabila derajat homogenitas di antara para anggotanya mencukupi : pendidikan melangsungkan dan memperkuat homogenitas itu dengan menanamkan dalam diri anak sejak awal, persamaan-persamaan hakiki yang dituntut oleh kehidupan bersama, dengan demikian pendidikan hanyalah merupakan sarana bagi masyarakat untuk mempersiapkan, dalam diri anak-anak, kondisi yang hakiki dari kehadirannya sendiri. Lebih jauh lagi, Yusuf (1985) menyatakan bahwa revolusi industri membawa pengaruh yang luar biasa besarnya terhadap cara berfikir, berbuat dan merasa perorangan, keluarga dan masyarakat dimana terjadi atomisasi dari jalannya mesin-mesin pabrik mengakibatkan permintaan jenis tenaga kerja yang ahli, terampil, dan mahir mengontrol.[8] Inilah sebab-sebab mengapa paradigma pendidikan sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial yang kontekstual, yaitu secara makro dan mikro mampu menjawab tantangan serta mengantarkan masyarakat menuju perubahan sosial yang baru menuju kehidupan yang demokratis, religius, dan tangguh menghadapi tantangan globalisasi yang semakin kompetitif dengan mempersiapkan peserta didik yang memiliki kapasitas di bidang keilmuannya masing-masing.

Dalam konteks kebudayaan, secara tradisonal pendidikan memiliki tugas dan peran secara konservatif harus meneruskan dan mengawetkan kebudayaan bangsa tersebut. Pendidikan di Indonesia mempunyai tantangan yang sangat kuat yang menyangkut masalah nilai, sikap, dan mental yang selalu dinamis. Menurut Koentjoroningrat dalam Yusuf (1985) bahwa sistem nilai budaya yang merupakan bagian dari kebudayaan yang berfungsi sebagai pengarah dan pendorong tingkah laku suatu masyarakat yang mempunyai konsep abstrak yang hidup dalam pikiran masyarakat, sehingga untuk merubahnya bukanlah pekerjaan yang mudah. Koentjoroningrat mendefinisikan sikap adalah potensi pendorong yang ada dalam jiwa manusia sebagai individu bereaksi terhadap lingkungannya yang dapat dipengaruhi oleh norma-norma serta konsep-konsep nilai-nilai budaya yang dianutnya.

Santoso (1981) menyatakan bahwa pendidikan sebenarnya merupakan suatu tugas etika dasar (a fundamental ethical basic) yang tidak boleh menyimpang dari sendi-sendi etika.[9] Sebab pendidikan itu mencakup pertimbangan-pertimbangan etik dan nilai-nilai budaya yang sifatnya mutlak untuk kehidupan manusia yang berbudaya dalam menjaga kehormatan pendidikan itu sendiri. Pendidikan adalah usaha sadar manusia untuk memanusiakan manusia yang mampu mengmbangkan akal, budi, dan dayanya hingga mampu mengatur dirinya, mampu berdiri sendiri, dan mencukupi segala kebutuhannya (magunpranoto, 1978). Membina kesadaran moral yang tinggi tidak hanya di peroleh dalam pendidikan formal saja melainkan di pendidikan non-formal seperti dituliskan Manheim dalam Jong (1984) bahwa salah satu penemuan yang paling menentukan dalam abad kita adalah bahwa pendidikan masyarakat (non-formal) itu lebih hebat dari pada pendidikan formal, dimana seperangkat nilai menjadi dasar integrasi sosial ke dalam apa yang dinamai ‘masyarakat demokratis.’

Pendidikan dalam kehidupan manusia sebagai alat perjuangan untuk memajukan hak dan martabat manusia itu sendiri. Paulo Freire dalam bukunya pedadogy of the oprpressed di bab pertama berbicara mengenai akan kebutuhan pendidikan bagi kaum tertindas bahwa pendidikan sebagai proses humanisasi dan merupakan panggilan manusia sejati yang harus diperjuangkan dalam melawan penindasan dimana dunia dan manusia berada dalam interaksi.[10] Weiler dalam Robinson (1986) mencoba mencoba member corak pada sebagain besar mengenai pembahasan mengenai masalah-masalah Dunia Ketiga sebagai termasuk dalam suatu “zaman lugu” (age of innocence) yang berasumsi bahwa bagaimanapun pendidikan akan mendatangkan keadilan yang lebih besar pada distribusi penghasilan, barang-barang dan status. Akan tetapi ia juga berpendapat bahwa kini sedang muncul suatu “zaman skeptis,” dimana pendididkan dipandang sebagai tergantung pada perubahan-perubahan ekonomi politik masyarakat bersangkutan. Sebab sektor perekonomian modern Dunia Ketiga cenderung didominasi oleh perusahaan-perusahaan Negara dan Multinasional, dan memiliki daya tarik bagi masyarakat Dunia Ketiga oleh karena inilah sektor dimana upah dibayarkan secara teratur, yakni gaji bulanan. (Makalah Kerja Sektor Pendidikan Bank Dunia dalam Robinson, 1986).

Institusi pendidikan sebagai organisasi penyelenggara pendidikan harus mampu memiliki visi pendidikan yang mengutamakan kemandirian menuju keunggulan untuk meraih kemajuan dan kemakmuran berdasarkan nilai-nilai falsafah bangsa. Kemandirian diartikan mengandung sejumlah unsur penting, yaitu kemampuan, sifat-sifat demokratis, toleran, kreatif, kompetitif, estetis, kritis, bijaksana, dan moral (Jalal 2001). Untuk menjaga kemandirian tersebut, diperlukan lembaga pendidikan yang memiliki komitmen kuat dalam menjaga mutu sesuai dengan kecenderungan globalisasi dan kepentingan bangsa. Sebab salah satu tugas bangsa Indonesia adalah membangkitkan kesadaran dalam mengatasi masalah pengentasan kemiskinan, pengangguran, dan masalah-masalah sosial ekonomi lainnya dengan melakukan tindakan nyata melalui peningkatan kompetensi berbasis nilai dan budaya bangsa. Untuk itu, dibutuhkan metode pengajaran dan pembelajaran yang tidak hanya memandang pedidikan sebagai aspek mikro saja, melainkan peningkatan aspek makro dalam rangka membangun kesadaran kritis dalam melakukan perubahan sosial dan ekonomi bangsa. Penyelenggara pendidikan sebagai organisasi pelayanan memiliki tugas dan tanggung jawab dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Dengan melakukan kontrol terhadap sistem pengendalain dan penilaian kelembagaan secara menyeluruh.



[1] Wibisono, Koento. 1983. Arti Perkembangan Menurut Filsafat Positivisme Auguste Comte. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

[2] Salim, Agus. 2001. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial (dari Denzin Guba dan Penerapannya). PT. Tiara Wacana: Yogyakarta.

[3] Suwarsono & Alvin Y. So. 1994. Perubahan Sosial dan Pembangunan. LP3ES : Jakarka.

[4] Mangunpranoto, Sarino. 1978. Pendidikan sebagai Sistem Perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Yayasan Idayu: Jakarta.

[5] Jalal, Faisal & Dedi Supriadi. 2001. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Adicita Karya Nusa: Yogyakarta.

[6] Robinson, Philips. 1986. Beberapa Perspektif Sosiologi Pendidikan. CV. Rajawali; Jakarta.

[7] Jong, S.C.N. de. 1984. Sosiologi Pendidikan; Suatu Ikhtisar tentang Pendidikan, Perkembangan dan Modernisasi. PT. Sangkala Pulsar: Jakarta.

[8] Yusuf, Maftuchah. 1985. Program Pendidikan dan Kebudayaan dalam Pembangunan Nasional. Fakultas Pascasarjana IKIP Jakarta bekerja sama dengan BKKBN: Jakarta.

[9] Santoso, Iman Slamet. 1981. Pembinaan Watak Tugas Utama Pendidikan. UI Press: Jakarta.

[10] Freire, Paulo. 1984. Pendidikan, Pembebasan, Perubahan Sosial. PT. Sangkala Pulsar: Jakarta.

Minggu, 14 Februari 2010

14 Februari 2010

Satu tahun sudah aku menjalani hidupku sebagai Asisten Pribadi Prof. Sajogyo. Pada tanggal ini beliau memintaku untuk menjadi asistennya untuk mendampingi beliau semasa hidupnya di akhir-akhir masa tuanya. Banyak pelajaran dan tantangan bersama beliau, pelajaran hidup adalah proses yang sangat aku rasakan bersamanya. Hidup penuh dengan ketabahan, kesabaran, dan ujian yang harus selalu dihadapi dengan tulus dan ikhlas, itulah yang aku rasakan hidup bersamanya.

Berprilaku arif dan bijaksana dalam setiap gerak kehidupan merupakan realitas kehidupan yang beliau jalani. Tidak ada kata yang beliau ucapkan kecuali kata yang bermakna sebagai pesan-pesan kehidupan kepada generasi penerusnya. Hidup dengan ketegasan dan keteguhan diri, berdasarkan akal pikiran dan hati, yang membuat kehidupan itu beliau selalu syukuri dalam keadaan suka dan duka.

Orang tua yang dalam keadaan lemah tak berdaya melawan realitas kehidupan yang dijalani, membuat diriku merasa kagum akan ketabahannya. Melalui latihan-latihan kejiwaan yang dilakukan sejak lima dekade yang lalu, sampai hari ini pun, beliau terus menjalaninya. Sebab dengan berserah diri kepada Sang Pemilik kehidupan, serasa hidup ini hanya beliau darma baktikan kepadaNya, Tuhan Sang Maha Pencipta langit dan bumi beserta isinya.

Hidup yang tidak selalu berlebihan, cukup sandang, pangan, dan papan. Makan dengan lauk-pauk seadanya, dilakukan dengan pelan-pelan, mengunyah sampai 30 kali setiap suapan sendok makan, minum setelah makan dihabiskan, merupakan ciri beliau dalam menyantap makanan. Berkeliling di halaman rumah di pagi hari sambil menjemur tubuh, sebagai bentuk mensyukuri nikmat sinar matahari yang menerangi bumi beserta isinya yang diperoleh secara gratis. Tak lupa sambil melihat jam tangan, pukul 06.15 – 07.05 WIB menyempatkan lihat bus IPB yang melintas di depan rumahnya, sebagai rasa bangga terhadap almamaternya yang dulu sempat mengabdi sekitar lima dekade.

Sifat yang harus diikuti oleh generasi penerus adalah ketekunan beliau dalam segala hal. Ide dan gagasan yang selalu muncul dari beliau merupakan hasil dari pengolahan jiwa dan jasad yang menyatu membentuk sebuah pemikiran diluar batas orang biasa. Tak jarang, ide yang disampaikan tak masuk di akal, kuno, bahkan belum bisa diterima oleh orang biasa. Namum ide itu membuktikan kebenarannya melintasi ruang dan waktu. Bahwa apa yang beliau sampaikan tidak dapat dipahami sepintas waktu, tetapi jauh ke depan melintasi waktu.

Bagaimanapun keadaannya, orang tua ini harus selalu kita jaga, baik keadaan fisik, jiwa, dan idealismenya. Presiden RI ke-6 dalam acara Penganugerahan Tanda Kehormatan Bintang Maha Putera di Istana Negara Jakarta tanggal 14 Agustus 2009 berpesan kepada saya : “Mas, tolong di jaga Bapak ya.” Jawab saya saya : “Baik Pak.”

Kepada generasi penerus pun juga harus menjaganya, bukan hanya fisiknya tetapai juga jiwa dan idealismenya. Tugas yang harus dipikul sekarang adalah memikirkan regenerasi, baik dari sisi “keilmuan maupun laku-nya” dalam menemukan wujud baru aliran pemikiran “sajogyo” yang berpihak pada petani miskin dan kelompok marjinal. Jangan hanya memanfaatkan kesempatan untuk memenuhi “kepentingan” tetapi juga harus bisa membawa jiwa dan cita-cita belai dalam upaya : “Membangun…. Membangun…. Membangun…” masyarakat Indonesia yang berkeadilan sosial. “Itu inti pesan beliau kepada generasi penerus.”

Minggu, 08 Maret 2009

TERIMA KASIH SAHABAT

Aku Mengucapkan banyak terima kasih kepada sahabat-sahabatku yang berkenan untuk menjenguk Prof. Sajogyo di Jalan Martimbang II No. 3 Jakarta. Aku sangat bergembira sekali dengan kemajuan kesehatan bapak yang semakin hari, semakin membaik. Bermula dari sakit asam urat dan gangguan pencernaan yang begitu parah hingga harus di rawat di RSHS Jakarta selama 23 hari (28 Januari – 19 Februari 2009). Semua ini berkat kegigihan bapak untuk mau sembuh dari sakitnya, serta dorongan dari semua keluarga, rekan, sahabat, anak, dan cucunya yang selalu sedia mendo’akan bapak selama beliau sakit. Apalagi dengan keluarga, yaitu keluarga Bapak Koenoro, adik kandung bapak yang bersedia menjadikan rumahnya sebagai tempat perawatan bapak pasca dari RSHS Jakarta dari tanggal 19 Februari – sekarang (17 Hari).

Kesanku terhadap bapak bersama sahabatku ketika menjenguk tanggal 08 Maret 2009 pukul 13.00 WIB adalah bapak bisa berjalan dan menemui kami di ruang tamu rumah pak koenoro. Aku tidak tahu makna dibalik ini, sebelumnya bapak belum pernah menemui tamu-tamu yang menjenguknya itu di ruang tamu, biasanya hanya didalam ruang tidurnya. Apakah dengan datangnya kami semua bapak memiliki makna tersendiri? Akupun tidak tahu jawabannya. Bapak selalu berbuat diluar dugaan, dan mungkin sulit diduga, diartikan, dimaknai, dan dimengerti. Mungkin hanya bisa dimengerti beberapa saat kemudian, detik, menit, jam, hari, bulan atau bahkan tahun. Begitulah bapak yang pemikirannya sangat sajuh kedepan diluar batas kemampuanku dan juga sahabat-sahabatku.


Bapak dalam pesannya memberikan masukan kepada kita untuk bisa membaca hasil laporan “Peluang Kerja di Sektor non Pertanian” yang ada di perpustakaan di Malabar 22. Sebab buku itu penting untuk dikaji ulang oleh generasi muda, terutaman para mahasiswa yang ingin menulis tugas akhir. Buku itu juga pernah dikutip oleh Prof. Mangara Tambunan dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar kemudian dicetak dalam sebuah buku. Kemudian bapak juga menyarankan buku Capital Sosial tulisan Robert Lawang dosen Sosiologi Pedesaan Universitas Indonesia. Mengapa buku itu penting, sebab di dalam buku itu dituliskan bagaimana pengembangan modal sosial menjadi salah satu modal ikatan yang kuat antar masyarakat terutama di pedesaan di Indonesia. Begitu juga dengan bukunya Berta Winata banyak memberikan gambaran mengenai tokoh politik di Indonesia dalam mengkaji sosiologi politik dalam praktek.


Kami semua menyadari bahwa Prof. Sajogyo memiliki cita-cita yang besar terhadap bangsa ini. Beliau melakukannya penuh dengan keikhlasan, ketulusan, dan jiwa intelektualitas yang tinggi. Kami semua sebagai cucunya mencoba untuk sejalan dengan pemikiran beliau yaitu konsen terhadap penelitian dan pendampingan terhadap masyarakat terutama masyarakat pedesaan di Indonesia. Entah bagaimana nanti hasilnya, yang terpenting bagi kami semua mejalankan apa yang menjadi tujuan kita bersama. Karena kami yakin bahwa usaha sekecil apapun pasti akan ada hasilnya. Terima kasih sahabat yang masih peduli dengan Prof. Sajogyo, hanya dengan tekad dan kemauan kitalah cita-cita bangsa ini akan tercapai, yaitu ; mewujudkan keadilasn sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.


Terima kasih...

Rabu, 04 Maret 2009

14 FEBRUARI 2009

14 FEBRUARI 2009

Pada tanggal ini bertepatan pada hari Sabtu Pon atau 18 shafar 1430 H. Dimana pada hari ini merupakan hari yang bersejarah bagiku, mungkin aku orang yang sangat mencintai sejarah, sampai kejadian pada hari ini aku tuliskan dalam catatan harianku. Pada tanggal 14 Februari mungkin kebanyakan orang terutama pasangan muda-mudi yang saling memadu kasih, menjadikan hari ini sebagai hari kasih sayang atau yang biasa disebut Valentine’s Day. Biasanya sepasang kekasih tersebut saling menguatkan kasih sayang dan cintanya, berjalan mencari suasana baru dengan pemandangan yang indah, merayakannya dengan penuh senang dan gembira, atau memberikan sebuah cokelat untuk sang kekasih yang dicintainya.

Tanggal 14 Februari ini bagiku sendiri sangat berbeda maknanya. Pada hari itu, pukul 20.14 WIB aku menerima telepon dari Hand Phone yang berdering sekitar 5 kali di rumahku. Telepon itu bukan dari kekasihku, bukan dari orang tuaku, bukan dari sahabatku, atau bukan dari teman kerjaku. Tetapi dari orang tua yang sedang sakit dan dirawat di Rumah Sakit Harapan Kita (RSHS) Jakarta yang sedang menderita sakit gangguan pencernaan dan asam urat tinggi dan terbaring di RSHS. Siapakan orang tua itu???

Orang tua adalah Profesor Sajogyo. Seorang guru besar IPB yang berumur 83 Tahun (21 Mei 1926) yang memiliki jiwa kharismatik, sederhana, santun, berwibawa, dan memiliki intelektualitas terhadap kondisi sosial masyarakat miskin di Indonesia. Kiprah beliau sangat dikenal oleh berbagai kalangan, baik akademisi, politisi, aktivis, maupun masyarakat yang golongan menengah ke bawah, karena aktualisasi beliau terjun ke lapangan terutama di pedesaan pasca pensiun menjadi dosen di IPB tahun 1991.

Apa yang beliau sampaikan kepada lewat telepon???

Beliau bertanya kepadaku,,, Apakah anda bersedia menjadi asisten pribadi saya? Yang bertugas untuk mendampingi saya setelah dari rumah sakit?

Pertanyaannya cukup singkat dan padat. Tetapi bermakna dalam dan penuh dengan ketulusan.

Aku menjawab,,, dengan penuh keikhlasan hati dan niatan yang tulus untuk mendampingi beliau,,, aku jawab ; iya bapak, insya Allah saya bersedia untuk menjadi asisten pribadi bapak.

Beliau menjawab,,, iya terima kasih... wassalamu’alikum.

Jawabku,,, Wa’laikum salam.

Setelah beliau menutup teleponnya, akupun terdiam, merenung, dan berfikir dalam hati. Sebenarnya, mengapa bapak memilih saya??? Apa kelebihan saya dibandingkan dengan sahabat-sahabatku yang lain??? Apa yang bapak nilai dari dalam diri saya, sikap saya, kepribadian saya, atau perilaku saya???

Aku mengenal Prof. Sajogyo tahun 2005. Saat itu merupakan acara peresmian didirikannya Yayasan Sajogyo Inti Utama (SAINS). Sebuah lembaga yang beridiri atas inisiatif dari murid-murid beliau dalam rangka untuk mengaktualisasikan jiwa intelektualitas beliau yang berpihak kepada masyarakat miskin pedesaan di Indonesia. Aku terlibat aktif di Yayasan itu sampai sekarang, dan aku mengikuti proses belajar di pedesaan Kabupaten Poso selama 2 Tahun (awal 2007 - akhir 2008) dan baru ketemu beliau dengan dekat di awal tahun 2009.

Di awal tahun 2009 beliau menderita sakit dan harus dirawat di RSHS Jakarta. Dalam masa-masa beliau dirawat di RSHS, aku baru menemani dan menjaga beliau hanya 3 kali. Berbeda dengan teman-temanku yang harus menemani beliau sampai berhari-hari dan jarang pulang ke Bogor. Akupun merasa bahwa diriku sebelumnya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan teman-temanku yang sangat perhatian sama beliau, bahkan dekat dengan beliau. Aku merasa diriku bukanlah orang yang memiliki kedekatan emosional yang dekat dalam kehidupan sehari-hari beliau. Bahkan aku juga bukan orang yang mungkin belum mendapatkan kepercayaan yang penuh dari beliau.

Tetapi.....

Tanggal 14 Februari 2009 aku sangat bersedih, sebab permohonan beliau untuk memintaku sebagai asisten pribadinya membuatku selalu termenung dengan alasan-alasan beliau memilihku...

Tapi aku harus tegar, aku tidak boleh terus bersedih, aku harus membuktikan bahwa amanah yang beliau minta kepadaku harus kujalani dengan baik, sabar, dan ikhlas. Aku sadari bahwa ini sangat berat, penuh dengan tantangan, dan energi yang besar. Bagiku, kalau ini dijalani dengan penuh ketulusan pasti akan bisa berjalan dengan baik. Itu prinsipku...

Terima kasih bapak, atas kepercayaan yang diberikan kepada saya. Semoga saya bisa menjalaninya dengan sabar, ikhlas, dan amanah. Amin...